Zona Nyaman, Mitos Atau Fakta?

Beberapa buku yang pernah saya baca membahas tentang zona nyaman, sebuah istilah yang diberikan kepada seorang karyawan yang sudah bertahun-tahun bekerja di sebuah perusahaan namun tidak ada perkembangan yang berarti dalam karirnya terutama dari segi penghasilan. Mereka yang terjebak dalam zona nyaman biasanya tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mencari pekerjaan lain dengan penghasilan yang lebih baik. Alasannya klasik, “belum tentu pekerjaan lain lebih baik dari pekerjaan saat ini”, padahal mereka hanya takut untuk mengambil resiko.

Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi tentang pengalaman saya keluar dari zona nyaman. Tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 saya bekerja sebagai tenaga pengajar (Instruktur) di sebuah lembaga pendidikan komputer di kota Palembang. Penghasilan yang saya dapatkan selama mengajar hanya cukup untuk membayar biaya kuliah, beli bensin, pulsa dan makan sehari-hari. Well, mungkin saya bisa dibilang buruk dalam mengelola uang, tapi itulah kenyataannya, di akhir bulan tidak jarang saya harus meminjam uang dari teman ataupun kakak perempuan saya untuk menyambung hidup sampai gajian.

Selain gaji yang pas-pasan ada sebuah ironi yang menjadi bahan renungan saya, salah satu alasan yang membuat saya memutuskan untuk berhenti dari lembaga ini. Ada salah seorang rekan kerja yang telah mengabdi selama 10 tahun, bagi saya kehidupan yang ia jalani bukanlah kehidupan yang ingin saya jalani 10 tahun kedepan. Oke, saya terlalu menjudge, tapi itulah pandangan saya. Kalau saya bertahan di sini sampai 10 tahun, bisa jadi kehidupan saya tidak akan jauh berbeda dari beliau.

4 tahun mengajar saya sempat didaulat sebagai Instruktur terbaik sekaligus pembimbing terbaik, saya mendapatkan penghargaan tersebut 2 tahun berturut-turut. Lalu, apakah prestasi tersebut mempengaruhi penghasilan saya? jawabannya tidak! Singkat cerita akhirnya pada bulan november tahun 2011 saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Salah seorang rekan kerja terang-terangan mencibir, ia berujar bahwa keputusan yang saya ambil adalah sebuah kesalahan yang besar, karena di Palembang tidak ada perusahaan yang bisa memberikan gaji lebih baik dari lembaga ini. Saat itu, saya mengalami pergolakan batin yang cukup hebat, apakah keputusan ini tepat atau tidak? hanya waktu yang bisa menjawab.

Saya wisuda S1 tepat satu bulan setelah berhenti bekerja, kebanggaan saya atas perjuangan menyelesaikan kuliah tidak bertahan lama setelah saya tersadarkan atas “realita”, bahwa saya adalah seorang sarjana pengangguran. 6 bulan lamanya saya berjuang mencari pekerjaan, bukan waktu yang singkat memang. Belasan lamaran sudah saya kirim, beragam model tes dan interview sudah saya jalani namun belum juga mengantarkan saya pada pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya. Tabungan saya terus tergerus karena harus membeli koran setiap hari untuk mendapatkan info lowongan pekerjaan, belum lagi kebutuhan untuk makan, bensin dan pulsa. Saya mencoba menekan pengeluaran agar bisa bertahan selama mungkin, saya ingat betul saat-saat dimana saya mengumpulkan kepingan-kepingan uang logam hanya untuk membeli koran.

Pahit, tapi inilah harga yang harus dibayar atas keputusan keluar dari zona nyaman. Saat itu, saya tidak henti-hentinya mengutuki buku-buku yang menyarankan untuk keluar dari zona nyaman. Saya kembali mengingat-ingat indahnya bekerja di perusahaan sebelumnya, bekerja di ruangan berAC dengan seragam yang bagus dan dasi yang kren, disegani rekan kerja, dihormati oleh siswa, rasa penyesalan perlahan muncul, batin saya menangis sejadi-jadinya. Ditengah rasa putus asa, saya teringat perkataan rekan kerja yang pernah mencibir keputusan saya untuk mengundurkan diri dulu, perkataan yang terus mencambuk saya untuk terus berjuang.

Mei 2012, penantian panjang saya berakhir sudah, sebuah perusahaan properti terkemuka di kota Palembang memberikan saya kesempatan untuk bekerja sebagai Marketing Support, saya mendapatkan apa yang saya cari selama ini, gaji yang baik, pengalaman kerja yang luar biasa dan networking yang menjadi modal penting untuk menaiki tangga kesuksesan kedepannya. 1 tahun bekerja, bagaikan mimpi di siang bolong, saya dilamar oleh sebuah perusahaan properti yang sedang membangun proyeknya di kawasan Tangga Buntung Palembang, tidak tanggung-tanggung, saya dipercaya untuk memegang jabatan sebagai Marketing Manager.

Pada titik ini saya kembali mengenang perjuangan setelah keluar dari zona nyaman. Saya menyadari satu hal, ada sebuah missing link dalam setiap bab pembahasan tentang zona nyaman, yaitu pahit getirnya perjuangan untuk membuktikan kepada orang lain, bahkan kepada diri sendiri, bahwa keputusan untuk keluar dari zona nyaman adalah keputusan yang tepat. So, bagi saya zona nyaman adalah sebuah fakta, akhirnya saya bisa membuktikan bahwa perkataan rekan kerja saya dulu ternyata salah besar, keluar dari lembaga tersebut adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat, jika saya tidak memutuskan untuk keluar, mungkin saya tidak akan melewati tahun-tahun emas dalam perjalanan karir saya sebagai karyawan.


Leave a Reply