Membangun Kecerdasan Sosial Lewat Membaca

Melihat rak 4 tingkat yang penuh dengan deretan buku-buku tebal, seorang teman yang berkunjung ke ruang kerja saya bertanya “Kak, ini dibaca semua ya?”. Sebuah pertanyaan yang sederhana namun cukup menggelitik, saya berpikir, apa iya ada orang yang membeli buku hanya untuk dipajang saja?

Minat membaca saya sudah muncul sejak saya duduk di bangku SMA, saya mengawali perjalanan membaca saya dari buku-buku saku, buku kecil dengan ketebalan kurang dari 80 halaman tersebut bisa saya selesaikan dalam waktu yang cukup singkat. Ringan namun padat akan informasi. Seiring dengan bertambahnya minat membaca saya, novel pun menjadi pilihan berikutnya, karya-karya Andrea Hirata menemani masa-masa kuliah saya dulu.

Memasuki dunia kerja, saya mengisi hari dengan bacaan-bacaan seputar pengembangan diri, mulai dari buku-buku karya Daniel Goleman hingga buku-buku karya Anthony Robbins. Untuk penulis lokal, buku berjudul “Young On Top” karya Billy Boen dan buku “Your Job Is Not Your Career” karya Rene Suhardono cukup mempengaruhi pola pikir saya diawal meniti karir sebagai karyawan.

Saya menyadari, semakin banyak membaca, semakin banyak pula kosakata baru yang saya pahami dan bisa saya gunakan dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tentunya sangat membantu saya mengartikulasi dan menyampaikan pendapat dengan bahasa yang lugas, serta dapat menambah rasa percaya diri pada saat berbicara dengan orang lain. Dalam berbagai situasi, kebiasaan membaca membawa saya pada fase kedewasaan dalam berpikir, berbicara, menganalisa, mencari solusi dan mengambil keputusan yang secara tidak langsung juga berpengaruh pada kecerdasan sosial saya.

Jika bicara soal kecerdasan sosial tentu cakupannya sangatlah luas, untuk itu saya membatasi pembahasan kali ini pada kemampuan berkomunikasi dalam interaksi sosial.  Lalu bagaimana membaca bisa membangun kecerdasan sosial? Sederhananya seperti ini, ketika membaca sebuah buku, majalah, surat kabar atau artikel di media online, informasi baru yang dibaca akan disimpan dalam otak membentuk sebuah titik informasi, semakin banyak membaca tentunya akan semakin banyak pula titik-titik informasi dalam otak. Lalu apa informasi tersebut bermanfaat? coba simak pengalaman saya berikut ini.

Siang itu saya nongkrong bersama seorang rekan di salah satu coffee shop di Palembang, saat itu ia bercerita tentang seorang tokoh nasional bernama Tan Malaka, ia berkisah bagaimana Tan Malaka menghabiskan umurnya untuk memperjuangkan Indonesia menjadi negara yang terbebas imperalisme Negara Barat, bagaimana pemikiran dan aksinya telah membantu kaum pergerakan menuju kemerdekaan. Saat itu saya tidak bisa berkomentar sedikitpun tentang Tan Malaka, yang bisa saya lakukan hanya menyimak kemudian sesekali mengajukan pertanyaan. Mengapa demikian? karena saya tidak memiliki titik informasi apapun dalam otak saya yang berkaitan dengan Tan Malaka.

Beberapa saat kemudian ia bertanya “siapa tokoh nasional yang saya kagumi?” seketika itu juga otak saya mencari titik informasi yang berhubungan dengan tokoh nasional kemudian dengan cepat menemukan sebuah nama, R.A Kartini dan sepersekian detik kemudian saya dengan mudahnya menceritakan bagaimana pemikiran-pemikiran R.A Kartini tentang pentingnya wanita memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum.

Mengapa kali ini saya bisa bercerita tentang R.A Kartini? karena beberapa bulan sebelumnya secara tidak sengaja saya pernah membaca sebuah artikel yang berhubungan dengan R.A Kartini, apa yang saya pernah baca tersebut ternyata tidak hilang begitu saja, ia membentuk titik informasi dalam otak saya yang dikemudian hari dapat dipanggil kembali. Setiap titik informasi yang berkaitan dengan R.A Kartini secara otomatis saling terhubung satu sama lain membentuk satu informasi utuh sehingga bisa dengan mudah saya keluarkan tanpa perlu berpikir keras.

Menurut saya, orang-orang yang memiliki kecerdasan sosial bukanlah orang-orang yang menguasai secara mendalam terhadap suatu topik tertentu, melainkan orang-orang yang tidak menutup diri dari berbagai informasi yang ada. Saat mereka berbicara dengan orang lain, ke arah manapun topik pembicaraan, mereka bisa “masuk” dengan berbekal titik informasi yang terdapat dalam otak mereka. Orang-orang inilah yang sering dianggap sebagai pribadi yang “cerdas” dan “berwawasan luas”, padahal bisa jadi orang tersebut hanya mengetahui “kulit”nya saja.

So, siapapun bisa meningkatkan kecerdasan sosial lewat membaca, cukup luangkan waktu 10 – 30 menit dalam satu hari untuk membaca informasi yang bermanfaat. Percayalah, hal ini akan berdampak besar dikemudian hari, dan ketika informasi tersebut berguna, anda akan sangat berterima kasih pernah membaca informasi tersebut.


Leave a Reply