Pengalaman Pertama Shalat Gerhana

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah”. [Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani] [1]

Sore hari seorang teman menelpon, mengajak saya untuk mengikuti shalat gerhana selepas shalat Isya. Teman mengingatkan saya untuk datang sebelum maghrib agar mendapatkan shaf terdepan, tapi karena ada sedikit pekerjaan saya datang menjelang Isya. Setibanya di masjid, setiap shaf terisi penuh sampai baris paling belakang, beruntung ada beberapa orang keluar selepas Isya sehingga saya bisa masuk pada shaf keempat.

Pada rakaat pertama setelah membacakan surah Al-Fatihah Imam membacakan surah Al-Baqarah, suaranya merdu, saya begitu menikmati setiap ayat yang dibacakan. Lima menit berlalu, sepuluh menit, lima belas menit, kaki mulai terasa pegal. Ramadhan tahun lalu, saat shalat tarawih di masjid yang sama, bacaan Imam cukup panjang, tapi tidak pernah sepanjang ini. Dua puluh menit berlalu, jamaah yang berada tepat di sebelah kanan dan kiri saya tampak tenang-tenang saja, tetapi kaki saya yang tadinya terasa pegal mulai bergetar hebat, benar-benar bergetar. Karena shaf kami rapat dan kaki saling bersentuhan, bisa saja jamaah yang berada disebelah saya merasakannya.

“Wah, ini apa yang salah, kok kaki gemetaran seperti ini?”, saya membatin. Apa yang salah, padahal saya cukup rajin berolahraga lari setiap pagi ataupun sore hari. Sebenarnya jauh di dalam hati, saya tidak bisa menerima kenyataan kalau saya selemah ini hahaha

Sebelum shalat saya sudah memastikan berada pada posisi berdiri yang paling nyaman, dalam rapatnya shaf, jarak kedua kaki saya tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh. Imam menyelesaikan ayat terakhirnya, mengucapkan takbir, semua jamaah termasuk saya melakukan gerakan rukuk, rasanya lega, akhirnya bisa berganti gerakan setelah berdiri sekian lama. Tapi, perasaan lega tersebut hanya bertahan sebentar, karena pada shalat gerhana, rukuknya juga tidak kalah lama, posisi ini jelas lebih sulit, lagi-lagi kaki saya bergetar.

“Sami’allahu liman hamidah”, ucap Imam.

Setelah bangkit dari rukuk, Imam tidak melanjutkan ke gerakan sujud, namun kembali membacakan surah Al-Fatihah dilanjutkan membaca surah yang tidak kalah panjangnya. “Masya Allah” kaki kembali bergetar, saya menyadari sepertinya ada yang salah dari posisi saya berdiri, dan benar saja, ternyata tumpuan saya berdiri yang salah.

Kaki saya memang menapak sempurna, namun tumpuan berdiri saya lebih dominan pada bagian depan telapak kaki, saya yakin betul hal ini yang menyebabkan kaki bergetar hebat, karena setelah saya memindahkan berat tubuh saya dan bertumpu sepenuhnya pada tumit, seketika itu juga kaki saya tidak lagi bergetar dan saya akhirnya bisa dengan sangat nyaman menyelesaikan shalat gerhana. Saat Imam mengucapkan salam, tepat 1 jam kami menyelesaikan dua rakaat shalat gerhana. Shalat berjamaah terlama yang pernah saya jalani selama ini.


Leave a Reply